Gondrong dalam sebuah pandangan



Rambut panjang pada seorang pria biasa dipanggil dengan sebutan gondrong. Gondrong adalah proses yang alami dan natural. Cara untuk gondrong juga sangat mudah, yaitu tinggal membiarkan alam untuk melakukan prosesnya.

Di post ini, saya sendiri ada pelaku gondrong yang ingin menjawab dan memberikan tanggapan saya setelah melewati banyak waktu bersama rambut gondrong saya. Postingan ini sangat cocok bagi anda yang bingung tentang pandangan pada sebuah "kegondrongan".
Mohon untuk dibaca sebagai orang yang netral.

Pertama,
Saya mulai gondrong sejak masuk kuliah. Ketika sekolah saya selalu memiliki pangkasan pendek dan sangat rapi. Jadi, ketika saya memutuskan untuk memanjangkan rambut saya, orang-orang disekitar saya berpendapat bahwa ini karena adanya kebebasan ketika masuk kuliah.

Mereka mengistilahkannya bagai "rusa yang dilepaskan dipadang rumput".

Tapi jauh dari itu semua, saya justru sedang ingin menjalani hidup yang lebih sederhana dan lebih kalem. Membiarkan rambut memanjang, menjalani kehidupan dengan berpikir, menjalankan proyek, dan menyusun sebuah fondasi menghadapi masa depan.

"membiarkan segala sesuatunya berjalan dengan alurnya dan tidak mau ambil pusing" -  lebih simpel.

Rambut gondrong yang saya panjangkan adalah kebodoamatan saya pada gaya rambut sekarang ini dan ketidaksetujuan saya pada gaya rambut yang diharuskan rapi (walaupun gondrong itu bisa dibuat rapi).

Paling parah pada masa-masa ini, kegondrongan saya malah dinilai hanya sebatas ajang untuk gaya-gayaan saja. Ketika saya bertemu dengan orang-orang yang juga gondrong. Mereka bertanya kepada saya, "anda yakin ingin gondrong?"
Seakan saya sedang memaksa untuk memanjangkan rambut saya supaya keren. Padahal ga perlu panjang rambut biar keren.

Konsep gondrong saya adalah sederhana: membiarkan alam melakukan prosesnya dan menjalaninya dengan apa-adanya.
Hohoho, begitu santoso!

Kedua,
Memecahkan pola pikir menilai hanya dari covernya saja.
Momen gondrong ini justru memberikan saya pola pikir untuk menilai orang lain tidak hanya melalui apa yang kita lihat saja. Contohnya saja pada pengalaman saya pada malam tahun baru, biasanya ada acara maaf-maafan dan berbicara dengan terbuka kekeluarga akan apa yang terjadi ditahun lama.
Disini saya mendapatkan sebuah penilaian negatif akan kegondrongan saya. Penilaian negatif ini datang dari salah satu keluarga dan saya diposisikan menjadi orang yang bersalah.

Cara menilainya hanya dengan melihat rambut saya di sebuah acara akhir tahun yang durasinya tidak nyampe 30 menit.

Saya justru sangat kecewa. Kenapa tidak bertanya dulu atau berbicara dulu dengan apa yang saya lakukan ditahun ini daripada hanya mengambil penilaian dari apa yang hanya bisa kita lihat?
Lagian itu acara maaf-maafan, bukan ajang cari poin negatif untuk diumbar (itupun kalau gondrong adalah negatif, saya ingin memecahkan pola pikir itu).

Dipoin kedua ini, saya akhirnya belajar bahwa menilai itu adalah gabungan dari semua indra yang bisa yang ada dalam kita: mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, hidung untuk mencium, kulit untuk merasa dan tidak kalah pentingnya digabungkan dengan pemikiran dan hati. Menilai itu adalah mencari poin positif untuk ditutupkan ke poin negatifnya.

Menilai hanya dengan beberapa saja dari itu sebenarnya tidak akurat dan dapat berakibat fatal.
Sebut saja seorang Programmer komputer dinilai dari gaya berpakaiannya, sementara software yang ia ciptakan malah di "bodoamatkan". Hancur sudah nilainya, Ferguso.

Menilai tidak sama dengan hanya sekedar mencari kesalahan.

Ketiga,
Gondrong dalam kebebasan.
Diatas saya sebutkan "seperti rusa yang dilepaskan dipadang rumput" atau singkatnya disebut "kebebasan".

Kita hidup di Indonesia, Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terkenal dengan Bhinneka Tunggal Ika.
Di Korea Utara, hanya ada 28 gaya rambut yang sah.

Setelah menjelajah Internet, saya menemukan bahwa di Indonesia tidak ada sistem atau larangan memiliki rambut panjang. Justru yang dilarang adalah menbully orang.

Jadi, memiliki rambut gondrong juga dikategorikan sebagai penduduk yang baik.

Nah, Terakhir.
Pada saat tertentu ketika saya mulai memperhatikan gaya-gayaan. Saya pasti akan memangkas rambut. Jadi tidak usah bingung karena rambut gondrong itu bisa dipangkas tanpa harus memakai tumbal.
Oh iya,
Saya sangat tidak suka disuruh memangkas rambut, tapi uang pangkasnya tidak dikasih :'v

Jadi sekian dulu postingan kali ini, semoga dapat membantu agan yang ingin gondrong maupun agan yang bingung kenapa ada orang gondrong. Meskipun pendapat ini hanya dari sudut pandang saya sendiri, untuk mendapatkan pencerahan yang bagus silakan untuk eksplorasi di tempat dan situs lainnya. Terimakasih

Note:
Jika anda menilai gondrong dari segi kebersihan, tanyakan pada kemampuan anda untuk menjaga kebersihan. termasuk juga gimbal, saya pernah melihat orang menilai gimbal itu kotor dan bau: penilaian ini adalah cerminan langsung dari si penilai jika diposisikan sebagai orang yang gimbal.

Related Posts:

0 Response to "Gondrong dalam sebuah pandangan"

Post a Comment

Entri Populer